Kedekatan yang Terlalu Berjarak

“Saya tidak menyerah.” Katamu saat itu, “Tapi saya hanya lelah.”
Aku mendengus, menghela nafas agak kasar, bahkan kelewatan keras malah. Tapi aku tidak peduli. Bukankah apa yang kau katakan itu melebihi batas? Apa kau tidak tahu sakitnya? Kalau ingin pergi, pergi saja. Kalau ingin menyerah, silahkan saja. Aku muak dengan alasan-tidak-adil-mu itu.
“Baiklah, aku akan pulang.” Ujarku. Lalu melenggang pergi. Sebelum itu aku masih sempat melihatmu diam tanpa mengangguk atau berbuat apapun.
Lihat saja, aku tidak akan menoleh. Sama sekali. Jika suatu saat nanti kita bertemu, anggap saja itu pertemuan pertama kita. Oke? Maka aku akan dengan senang hati berbelok agar tidak dekat denganmu. Seperti saat ini. Kedekatan yang terlalu berjarak. Ah, sakitnya.

Iklan

Itu Takdir, Bukan?

Kalau saja waktu itu bintang tidak muncul, apa akan ada pertemuan yang mengharukan di antara kita? Atau benarkah karena bintang itu, kita saling.mendekat dan bahagia? Kalau itu, ku sangsikan cerita yang terlalu muram, tentang aku dan kamu.
Karena sejatinya, memang bukan bintang yang mengisi kekosongan kita, namun takdir, bukan?

Karena Bersamamu, Selalu ada Kebahagiaan

image

Bahagianya pagi adalah ketika membuka mata setelah terlelap tidur. Dalam ucapan syukur bisa tersenyum lagi, untuk hari ini, untuk sepanjang hari.
Bahagianya siang adalah ketika panas dari sengatan matahari menyusurkan keringat di sekujur tubuh. Sungguh membuatku kehilangan banyak kata, juga rasa.
Bahagianya sore adalah ketika menatap matahari tenggelam dan merasakan perubahan cuaca. Mega merah yang tersenyum sambil melambaikan warna indahnya padaku. Lalu aku membalasnya.
Bahagianya malam adalah ketika mata sudah tidak kuat menatap apapun dengan fokus, lalu berubah merah, banyak menguap dan terlentang di kasur. Sungguh, kehidupan malam dalam mimpi yang temaram.

Tapi masih banyak kebahagiaan yang lain jika aku bersama denganmu, melayanimu, menyayangimu dan selalu mencintaimu. Kita akan selalu menjaga satu sama lain, saling percaya di antara banyak kesulitan yang menyusup, saling menghangatkan ketika kesibukan menumpuk.
Karena bersamamu, selalu ada kebahagiaan.

Terima kasih, suamiku…

Semoga Lebih Indah, Semoga Saja

Katanya pasangan suami-istri
Tapi tidak ada apapun di dalamnya
Bukan suami
Tidak juga istri
Katanya jodoh
Tapi tidak berjodoh sama sekali
Bukan jodoh
Tidak juga cocok
Kalau begitu,
Pantas apa dipanggil
Buat apa memanggil
Ayah
Mimi
Percuma saja mengeluh
Toh anak sudah sekolah menyeluruh
Jangan panjang kata
Jangan berbalik rasa
Sudah terlambat
Sudah mengenal erat
Pergi saja
Lupakan saja
Nanti akan ada akhirnya
Entah itu apa,
Semoga lebih indah…
Semoga saja

Seperti Tulisan Tanpa Nama, Tanpa Jejak

Aku ingat, hujan lalu di tengah malam kesedihan. Terlalu menyakitkan untuk diceritakan, apalagi harus menuturkan sedetail mungkin bersamaan dengan kenangannya. Kau tidak akan tahu apa-apa soal kesempurnaan yang tidak benar-benar sempurna. Kau tidak akan tahu apapun soal kejenuhan mengarang cerita akhir-akhir ini. Antara penipuan dan kehendak hati yang lain.
Apa salah jika aku mengurung perasaan gila ini. Tidak mengatakan apapun, berhenti menyalahkan siapapun. Berusaha untuk tidak peduli pada apapun yang terjadi.
Percayalah, itu menyakitkan…
Tapi apa kau sanggup menjelaskan pengertian semua ini? Ah, lelah sekali berdiri sendiri.
Maka biarlah yang terjadi terus berlalu. Seperti tulisan tanpa nama, tanpa jejak.

Karena Wanita itu Setangguh Baja

Wanita itu setangguh baja.
Ia tak akan mati dalam perang pemberontakan
Apalagi tertusuk kesepian dan penolakan
Hanya karena ia diceraikan,
Pula tak bersangkutan dengan hati yang kuat
Ia bertekad untuk tidak tiarap,
Bahkan mengemis meminta kembali keringat
Wanita bukan semena-mena keadilan busuk
Yang darinya ia makan di bawah kejamnya perlakuan
Lelaki bukan alasan pentinh untuk ditangisi
Juga bukan hal yang patut dikejar
Karena yang terjadi,
Wanita kehilangan banyak cinta dari para lelaki busuk
Keegoisan,
Kewenangan tak berpihak
Bahkan hal senonih yang tak pantas
Suami macam apa yang terlentang bersantai
Sedang sang wanita menangis di pojok jembatan
Tanpa uang,
Dengan momongan,
Tanpa kesejahteraan,
Dengan olokan…
Wanita itu menggerutu tapi masih tidak tahu apapun,
Bahkan sekalipun si lelaki busuk itu membawa simpanan ke ranjang
Zina yang dibawa perang
Tapi hati sudah terkukus matang
Entah seperti tak ada lagi jalan
Pisah saja,
Pulang saja,
Kembali ke desa,
Tidak lagi memperdulikan apapun yang ada pada lelaki
Lebih baik berjalan maju
Tanpa sejengkal pun kembali dan menoleh ke belakang
Ku kira itu akan lebih baik, bukan?
Biar sakit di rasa,
Butuh waktu untuk memulai keadaan
Asal, bahagia nantinya..

Karena wanita itu setangguh baja
Ia akan melawan kesakitannya, hanya dengan hati penuh doa..

Teruntuk wanita yang lelakinya terlalu busuk untuk dikenang dan dipatuhi,
Teruntuk para istri yang suaminya sembunyi-sembunyi menyimpan istri lain di dalam rumahnya,
Teruntuk wanita dengan anaknya yang tengah merasa kedamaiannya terombang-ambing karena lelaki..
Aku salut, aku turut berduka, aku ikut menangis.
Tabahlah, kebusukan pasti akan tercium, entah sampai kapan..
Percayalah, ada bahagia tersusut di depan menanti mu, para wanita berhati baja.

Semoga yang disemogakan

Bisakah kau diam sesaat dan menutup matamu? Aku ingin kau mendengar detak jantungku. Ia berdebar hanya untukmu.
Bisakah kau mengikuti alunan nyanyian malam? Aku ingin kau tau segenap desah nafasku. Ia berhembus merindukanmu.
Dan bisakah kau katakan padaku, apakah kau mendengar semua denyut cinta yang mendera untukmuy? Aku mengirimkannya lewat tepian rindu yang hanya terpatri dalam balutan syahdu.

Jangan sungkan untuk menatapku, aku tidak keberatan, malah merasa seakan melayang-layang. Sekalipun aku tau, semua ini adalah harapan yang aku saja bisa membacanya.

Semoga suatu saat, ada aku dimatamu.

 

Aku Akan Berusaha, Selal…

Semua yang terjadi adalah sesuatu yang bersangkutan dengan waktu. Segala hal bisa berubah, apapun bentuknya. Tapi sekarang dan mungkin sampai nanti dan seterusnya, aku akan berusaha menepis keadaan, dimana aku tak sanggup melihatmu bersanding dengan yang lain.

Aku akan berusaha, jika Tuhan memang tak menuliskanmu untukku, maka biar genap duka berangsur menjauh tanpa terpatri luka yang lain.

Tapi jika memang Tuhan memberikan ku sebuah kisah cinta berupa dirimu, aku bersumpah untuk menjaganya dengan segenap raga yang ku punya, semampu aku mempertahankannya.

Namun untuk sekarang ini, tolong pastikan, aku mendengar cukup satu nama, dan itupun tak menggema di pelataran hati.

Karena aku sangsi,

Mampukah aku berdiri lagi dalam detak evaluasi.

Aku selalu berusaha, pun berdoa. Kelak Tuhan memberiku sesuatu yang memang mampu membahagiakan aku di dunia maun surga. Aku selalu tengadah, agar Tuhan membiarkan aku sebentar untuk merasakan gejolak pasrah tanpa harus ku cari tumpuan tak bermakna.

Saat ini, tugasku lah yang sedang ku titi disini meredup dalam kegamblangan, dan sedang mencari cahaya tak berdesir yang meluap tanpa buih. Sedang tentang rasa ini padamu, biarlah nanti Tuhan yang memutuskannya sendiri.

Aku Akan Tetap Menutup Mata

Jangan ingatkan aku padanya!
Jangan sebut namanya!
Jangan bicara tentang apapun menyangkut dirinya!
Jangan membuatku terlena auranya!
Jangan tunjukkan padaku hal-hal mengenai dirinya!
Jangan…!!!

Ku mohon, berhentilah membicarakan keadaan yang hampir ku lepas dengan segenap jiwa, aku sudah tak sanggup jika harus menaruh namanya di papan hatiku agi.

Aku sudah menganggapnya kenangan yang tak perlu diungkit atau diulangi. Aku ingin berhenti menulis tentangmu dalam setiap episode hidupku. Aku sudah lelah jika harus merasakan patah hati lagi, dan lagi.

Jadi berhentilah melebih-lebihkan dia di mataku!
Sehebat apapun dia, bagiku dia tetap luka yang mengguyur peredaran darahku. Semenakjubkan apapun dirinya, tetap saja, bagiku ia adalah hati yang tak sanggup ku rengkuh.

Bangunkan aku dari tidur panjangku
Sadarkana aku dari mimpi tentangmu
Ku salah bila ku berharap padamu
Salahku paksa kau tuk mengagumiku

Hatiku terlanjur tertutup rapat, sedalam siapapun tak akan mampu membukanya. Seperih itu aku tak kuasa memperbaiki cinta dalam hati. Sampai Tuhan menentukan keindahan yang lain, aku akan tetap menutup mata.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑