Arsip | Fiksi RSS feed for this section

Burung Camar

12 Mei

Pagi-pagi sudah bertatap muka denganmu. Rasanya, senang sekali bisa melihatmu. Meskipun dari kejauhan, itu cukup untuk membendung perasaan sedihku. Kamu bernyanyi dengan apa yang kamu miliki, kamu menari dengan lenggok yang tidak dipunyai siapapun. Kalau saja aku bisa, aku ingin terus bersamamu.
Burung camar.
Andai saja aku punya sayap indah sepertimu, aku pasti ikut terbang bersamamu. Karena aku tak punya, maukah kamu menjengukku setiap pagi?
Burung camar.

Iklan

Kedekatan yang Terlalu Berjarak

11 Mei

“Saya tidak menyerah.” Katamu saat itu, “Tapi saya hanya lelah.”
Aku mendengus, menghela nafas agak kasar, bahkan kelewatan keras malah. Tapi aku tidak peduli. Bukankah apa yang kau katakan itu melebihi batas? Apa kau tidak tahu sakitnya? Kalau ingin pergi, pergi saja. Kalau ingin menyerah, silahkan saja. Aku muak dengan alasan-tidak-adil-mu itu.
“Baiklah, aku akan pulang.” Ujarku. Lalu melenggang pergi. Sebelum itu aku masih sempat melihatmu diam tanpa mengangguk atau berbuat apapun.
Lihat saja, aku tidak akan menoleh. Sama sekali. Jika suatu saat nanti kita bertemu, anggap saja itu pertemuan pertama kita. Oke? Maka aku akan dengan senang hati berbelok agar tidak dekat denganmu. Seperti saat ini. Kedekatan yang terlalu berjarak. Ah, sakitnya.

Itu Takdir, Bukan?

11 Mei

Kalau saja waktu itu bintang tidak muncul, apa akan ada pertemuan yang mengharukan di antara kita? Atau benarkah karena bintang itu, kita saling.mendekat dan bahagia? Kalau itu, ku sangsikan cerita yang terlalu muram, tentang aku dan kamu.
Karena sejatinya, memang bukan bintang yang mengisi kekosongan kita, namun takdir, bukan?

Seperti Tulisan Tanpa Nama, Tanpa Jejak

10 Mei

Aku ingat, hujan lalu di tengah malam kesedihan. Terlalu menyakitkan untuk diceritakan, apalagi harus menuturkan sedetail mungkin bersamaan dengan kenangannya. Kau tidak akan tahu apa-apa soal kesempurnaan yang tidak benar-benar sempurna. Kau tidak akan tahu apapun soal kejenuhan mengarang cerita akhir-akhir ini. Antara penipuan dan kehendak hati yang lain.
Apa salah jika aku mengurung perasaan gila ini. Tidak mengatakan apapun, berhenti menyalahkan siapapun. Berusaha untuk tidak peduli pada apapun yang terjadi.
Percayalah, itu menyakitkan…
Tapi apa kau sanggup menjelaskan pengertian semua ini? Ah, lelah sekali berdiri sendiri.
Maka biarlah yang terjadi terus berlalu. Seperti tulisan tanpa nama, tanpa jejak.

Aku Akan Berusaha, Selal…

8 Mei

Semua yang terjadi adalah sesuatu yang bersangkutan dengan waktu. Segala hal bisa berubah, apapun bentuknya. Tapi sekarang dan mungkin sampai nanti dan seterusnya, aku akan berusaha menepis keadaan, dimana aku tak sanggup melihatmu bersanding dengan yang lain.

Aku akan berusaha, jika Tuhan memang tak menuliskanmu untukku, maka biar genap duka berangsur menjauh tanpa terpatri luka yang lain.

Tapi jika memang Tuhan memberikan ku sebuah kisah cinta berupa dirimu, aku bersumpah untuk menjaganya dengan segenap raga yang ku punya, semampu aku mempertahankannya.

Namun untuk sekarang ini, tolong pastikan, aku mendengar cukup satu nama, dan itupun tak menggema di pelataran hati.

Karena aku sangsi,

Mampukah aku berdiri lagi dalam detak evaluasi.

Aku selalu berusaha, pun berdoa. Kelak Tuhan memberiku sesuatu yang memang mampu membahagiakan aku di dunia maun surga. Aku selalu tengadah, agar Tuhan membiarkan aku sebentar untuk merasakan gejolak pasrah tanpa harus ku cari tumpuan tak bermakna.

Saat ini, tugasku lah yang sedang ku titi disini meredup dalam kegamblangan, dan sedang mencari cahaya tak berdesir yang meluap tanpa buih. Sedang tentang rasa ini padamu, biarlah nanti Tuhan yang memutuskannya sendiri.

Aku Akan Tetap Menutup Mata

4 Mei

Jangan ingatkan aku padanya!
Jangan sebut namanya!
Jangan bicara tentang apapun menyangkut dirinya!
Jangan membuatku terlena auranya!
Jangan tunjukkan padaku hal-hal mengenai dirinya!
Jangan…!!!

Ku mohon, berhentilah membicarakan keadaan yang hampir ku lepas dengan segenap jiwa, aku sudah tak sanggup jika harus menaruh namanya di papan hatiku agi.

Aku sudah menganggapnya kenangan yang tak perlu diungkit atau diulangi. Aku ingin berhenti menulis tentangmu dalam setiap episode hidupku. Aku sudah lelah jika harus merasakan patah hati lagi, dan lagi.

Jadi berhentilah melebih-lebihkan dia di mataku!
Sehebat apapun dia, bagiku dia tetap luka yang mengguyur peredaran darahku. Semenakjubkan apapun dirinya, tetap saja, bagiku ia adalah hati yang tak sanggup ku rengkuh.

Bangunkan aku dari tidur panjangku
Sadarkana aku dari mimpi tentangmu
Ku salah bila ku berharap padamu
Salahku paksa kau tuk mengagumiku

Hatiku terlanjur tertutup rapat, sedalam siapapun tak akan mampu membukanya. Seperih itu aku tak kuasa memperbaiki cinta dalam hati. Sampai Tuhan menentukan keindahan yang lain, aku akan tetap menutup mata.

Takdir, lagi-lagi Mempertemukan Kita

25 Apr

Halo sayang, apa kabarmu? Sudah lama sekali semenjak beberapa tahun lalu kita memutuskan untuk meninggalkan kenangan masing-masing, namun sepertinya takdir selalu mempertemukan kita dengan pertemuan yang tidak terduga. Kali ini kita bertemu di sela hujan deras. Di antara orang-orang yang tengah bersembunyi dari dinginnya udara saat itu. Sungguh kenyataan pahit bagiku, tapi tidak begitu bukan? Ku rasa aku terlalu sering mendendangkan lagu samar di balik kehilanganmu dulu, sampai-sampai aku harus menenggelamkan tubuhku dikesibukan lainnya.
Dan bagaimana aku tidam merasakan pahit ketika harus bertemu denganmu lagi? Aku harus menatapmu dari dekat dan rasanya kembali ke tahun-tahun menyakitkan dulu. Aku tidak suka semua ini. Kau pasti tau itu.
Tapi bagaimanapun seseorang mencoba melawan takdir ,tetap saja akan kembali pada keputusan akhir takdir itu sendiri. Dan aku merasa harus menerimanya. Apa kau juga merasa seperti itu? Apa kau juga merasa takdir tidak ingin memisahkan kita? Apa kau merasa bahwa apa yang kita lakukab selama bertahun-tahun adalah sia-sia? Harusnya mengedepankan cinta adalah cara terbaik, dulu. Saling memaafkan dan percaya. Mungkin itu yang takdir inginkan dalam pertemuan kita kali ini.
Jadi, maukah kau mengerti semua ini bukan permintaanku? Namun takdirlah yang mempertemukan kita lagi. Aku hanya ingin memperbaiki segalanya bersamamu, semenjak hujan deras yang menaungi kita di balik kedinginan rasa, aku mau kembali berhangat-hangatan denganmu. Di masa sekarang dan juga nanti.

Apa kau setuju dengan apa yang aku katakan?

25 Apr

Selamat pagi kesedihan, aku akan membelakangimu kali ini. Karena sepertinya tidak perlu banyak bersedih hanya untuk merasakan pagi yang hangat. Kau selalu membuatku kedinginan tiap kali pagi merutuki nasibku.
Kau tidak pernah tau, seberapa dalam kedinginan itu menusuk kehidupanku, seberapa kejam kedinginan membubuhkan mimpi buruk dalam tidurku.
Dan tidak lagi untuk sekarang, juga nanti. Karena setelah ini, hangat akan menyelimutiku selalu. Sekalipun aku tak bisa lari darimu, aku bisa tersenyum sekalipun itu berat. Apa kau setuju dengan apa yang aku katakan?

Harapan Selalu Ada, dan Biar Begitu Selamanya

22 Apr

selalu ku fikir bahwa aku tegar
aku tak pernah menyangka kan begini

Ku mohon, biarkan aku bermimpi atau berkhayal yang tak pasti. Karena hanya dengan itu aku masih mampu bernafas meski aku di ujung letih. Karena hanya dengan itu, aku membiasakan bertahan di sini tanpamu, sedang kau mampu menatapnya setiap kali ia berlalu di sampingmu.

Dan biarkan aku membayang terbang, dalam angan yang tak terbilang segala tanya. Karena hanya itu yang bisa menepikan rasaku dari sebuah kejanggalan. Karena hanya itu, aku bisa berterus terang pada diriku sendiri, bahwa semuanya akan baik-baik saja, meski yang terjadi adalah sebaliknya.

ingin ku bicara hasrat mengungkakan
masih pantaskah ku bersamamu
tuk lalui hitam putih hidup ini

Harapan selalu ada, dan biarkan begitu selamanya. lagipula tak ada yang berhak menentukan baik-buruknya. Aku menentukan hidupku lewat doa yang ku tengadahkan. Biar Tuhan yang memutuskan akhir keabadian. Biar Tuhan yang mendendangkan syair kehangatan.

Doaku, Tentangmu

22 Apr

tak perlu kau beri alasan
mengapa kau ingin pergi meninggalkan diriku
karena ku yakin semuanya itu bisa membuatmu bahagia…

Ya Allah Ya Tuhanku,
Belas kasihanilah aku dengan cinta-Mu
Antar aku dalam surga-Mu
Penuhi aku dalam segala-Mu

Ya Allah Ya Tuhanku
Biar rindu ini terselip lewat hembusan-Mu
Yang hanya Engkau saja, penikmat keluhanku
Aku tak akan memaksa dia mendengarnya
Aku tak menuntut apa yang tak terbaca olehnya
Biar pada-Mu jua, aku pasrah dalam doa

Ya Allah Ya Tuhanku,
Kuatkanlah aku tetap mencintainya
Selalu tergenapi oleh Ridho-MuSelalu kau hampiri dengan kasih sayang-Mu

Ya Allah Ya Tuhanku,
Biarkan aku mencintainya, karena-MuBiarkan aku tak memaksa hal yang tak benar dalam diriku
Berilah aku kesanggupan, jika ia memang bukan jodohku